PERUBAHAN & PENGEMBANGAN ORGANISASI

Perubahan

Secara umum, perubahan adalah membuat sesuatu menjadi berbeda dari keadaan sebelumnya. sesuai dengan pendapat Robbins (1996) bahwa perubahan adalah membuat sesuatu yang menjadi lain, tetapi pemahaman ini tidak dapat diterima karena perubahan harus mempunyai tujuan, yaitu terjadi perbaikan atau peningkatan (improvement) kinerja organisasi yang tidak sekedar melakukan perubahan tetapi juga menghasilkan perbaikan. Pengertian perubahan mengandung makna ke arah pencapaian tujuan dikemukakan oleh Wood, Nicholson & Findley (1979: 57) bahwa perubahan merupakan upaya terencana, sistematis dan terkendali untuk mengubah lebih dari satu aspek organisasi yakni:

(1) tugas,

(2) struktur,

(3) teknologi,

(4) cara berpikir anggota organisasi efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Oleh karena itu pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan maka perubahan organisasi dapat dilakukan dengan mengubah perilaku, struktur, prosedur, tujuan atau output suatu unit dalam sebuah organisasi (Hanson, 1991). Sedangkan Jones (2004) mengemukakan perubahan organisasi sebagai proses yang mengantarkan organisasi beralih dari keadaan sekarang menuju ke keadaan yang diinginkan pada masa mendatang, dengan tujuan meningkatkan keefektifan organisasi tersebut.

Rumusan perubahan organisasi yang lebih umum dikemukakan oleh Hellieger & Slocum (dalam Winardi, 2002) yaitu perubahan organisasi yang direncanakan adalah upaya yang diintensifkan atau diarahkan untuk tujuan tertentu. Tujuan perubahan organisasi terencana (planned organizational change) adalah untuk menemukan cara baru dan dengan memperbaiki kegunakan sumber daya yang ada untuk meningkatkan kemampuan organisasi untuk menciptakan nilai dan memperbaiki hasil.

Ada beberapa aspek pokok yang perlu dicatat berkaitan dengan perubahan dalam pengembangan organisasi dalam  mengembangan sistem manajemen. Pertama, perubahan dalam organisasi dilakukan dengan sengaja, terencana dan menempuh langkah sistematis. Kedua, dalam pengembangan organisasi terjadi proses transisi, Ketiga, sebagai proses transisi. Keempat, perubahan dalam pengembangan organisasi mempunyai tujuan yang jelas. keefektifan dan akuntabilitas organisasi terhadap stakeholdersnya. Ini berarti bahwa perubahan yang dilakukan dalam organisasi tidak dapat terlepas dari upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kinerja organisasi dari keadaan masa lalu.

Pengembangan organisasi dalam sistem manajemen dapat dilakukan dengan cara mengadopsi ide, model, cara atau metode baru guna meningkatkan keefektifan organisasi (Owens, 1991). Ide, model, metoode atau cara baru yang diadopsi bisa saja berasal dari hasil analisis organisasi itu sendiri atau menerapkan pendekatan yang telah dikembangkan pihak lain.

Pengembangan Organisasi

Cummings dan Worley (2001: 2) mengemukakan definisi PO dengan penekanan yang berbeda, misalnya: definisi Burke memfokuskan perhatian pada kultur sebagai target perubahan; definisi French dikaitkan dengan usaha jangka panjang perbaikan organisasi dan penggunaan konsultan; definis Bechard & Beer ditujukan pada proses pengembangan organisasi.

Fulan, Miles dan Taylor (dalam Owens, 1991: 223) mengatakan bahwa pengembangan organisasi, disingkat PO merupakan upaya perbaikan secara sistematik, terencana dan berkelanjutan yang difokuskan pada perubahan prosedur formal dan informal, proses, norma atau struktur. Tujuan pengembangan ini bukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja organisasi, melainkan juga untuk meningkatkan kualitas kehidupan individu anggota organisasi.

PO lebih banyak menekankan pada perubahan secara menyeluruh dan mendasar, bukan saja menyangkut cara kerja melainkan pula pada proses dan sikap memahami persoalan, membuat keputusan dan perlakukan terhadap orang dalam organisasi. Dalam praktiknya, PO mencakup sepuluh konsep yang bercirikan:

(1) tujuan PO                          (2) pembaruan sistem,                        (3) suatu pendekatan sistem,

(4) berfokus pada manusia     (5) suatu strategi pendidikan               (6) perilaku yang dialami

(7) berkaitan masalah nyata  (8) suatu strategi terencana                (9) agen perubahan

(10) melibatkan pimpinan tingkat atas (Owens, 1991).

Dalam berbagai definisi PO terdapat konsep pokok, yaitu:

(1) Perubahan dalam PO ditujukan pada strategi, struktur, tugas, teknologi dan manusia terutama perilaku individu yang membangun kultur organisasi (organizational culture)

(2) PO berkaitan dengan manajemen perubahan yang terencana (managing planned change)

(3) PO berdasarkan pada pengetahuan dan praktik ilmu perilaku (behavioral science)

(4) PO berorientasi pada peningkatna keefektifan organisasi (organization effectiveness). (Owens, 1991; Robbins, 1996; Siagian, 2000; Cumming & Worley, 2001; Sutarto, 2002; Thoha, 2002).

(5) PO memerlukan campur tangan baik internal maupun eksternal; dan